|
MENU UTAMA |
| |
Produk |
Kesaksian Produk |
Konsep Pengobatan China |
Presentasi Bisnis |
Keunggulan Tianshi |
Fasilitas Member |
Kisah Sukses |
Daftar Stokist |
Profil Perusahaan Tianshi |
Penghargaan Dunia |
Marketting Plan A |
Marketting Plan B |
Bonus Distributor |
 |
 |
|
 |
|
 |
|
|
INFORMASI |
| |
| Untuk informasi peluang
bisnis ini hubungi : |
|
YEDI SAMSUDIN |
| Telp/HP :
+6285249193659 |
| Email :
info@tianshionline.web.id |
| |
BERITA
|
| |
| |
| |
| |
|
SPONSOR
ANDA |
| |
| Nama: YEDI SAMSUDIN |
| Telp:
+6285249193659 |
| Email:
info@tianshionline.web.id |
| Foto: klik
disini |
| |
| |
|
STATISTIK |
| |
Member
Upgrade :
1 Member
Free :
24
Visit :
21865
10
Member Upgrade Terbaru:
|
|
|
|
| |
|
|
Rizky Kanata
Saya Ingin Memiliki Kebebasan Waktu
REWARD
Pesawat & Kapal Pesiar (Plane & Yatch) ini membuat saya merasa
menjadi orang yang diberkahi Allah SWT. Memang semua ini terjadi karena
adanya dukungan sistem yang sangat baik. Tetapi semua tidak terlepas
dari anugrah dan berkah dari Allah SWT yang telah mempermudah jalannya.
Selain
sistem, integritas menjadi faktor utama dari keberhasilan ini. Saya
harus melakukan apa yang saya katakan. Karena, Network Marketing adalah
bisnis pemberdayaan manusia. Leader harus bisa menjadi contoh, sehingga
banyak orang yang ikut. Saya ikut saja apa yang dilakukan oleh Leader
& Sistem. Beliau tidak pernah berhenti untuk memotivasi diri dengan
impian-impiannya yang besar.
Impian
adalah modal utama untuk sukses di bisnis ini. Saat ini Saya sedang dan
ingin mewujudkan impian di Dream Book ke-3. Kumpulan impian dua Dream
Book sudah banyak yang kami wujudkan. Bangunlah impian anda dengan
mengikuti pertemuan, mendengarkan kaset, membaca buku, dan sering
bertemu dengan para leader. Karena impian mereka akan menginspirasi
impian anda.
Awal
membangun bisnis ini, saya hanya ingin memiliki penghasilan sendiri.
Karena selama kuliah, sebagai anak kos, uang saku yang dikirim orangtua
pasti ada batasnya. Leader Saya mengajarkan bahwa, "jika kamu belum
menemukan apa impianmu, berarti kamu belum menentukan tujuan hidup.
Ingin bagaimanakah kehidupan kamu 1 bulan, 1 tahun, 5 tahun bahkan 10
tahun kedepan? Jika tidak tau, berarti sama saja seperti mayat hidup!"
Wah, sangat mengerikan menjalani hidup seperti itu!
Setelah
mengikuti Seminar Tianshi, impian Saya pun berubah, ingin memiliki
kebebasan waktu. Saya sedih melihat ayah yang tidak memiliki kebebasan
waktu walaupun memiliki bisnis besar. Saya harus bisa memberikan waktu
untuk keluarga sebanyak mungkin.
Reward
ini saya dapatkan karena bekerja melebar. Setelah *8 kami lakukan
pelebaran jaringan. Membangun kaki baru setelah *8 itu menjadi
tantangan besar. Ada poin lebih bagi yang melakukan pelebaran. Tidak
hanya untuk reward saja yang bisa diraih, bonus pun jauh lebih besar.
Saya
hanya ingin katakan, sisihkan waktu 2-3 jam perhari untuk membangun
jaringan bisnis Anda di Tianshi. Sisihkan waktu menonton televisi Anda
yang rata-rata menghabiskan 4 jam per hari. Dalam dua tahun Anda akan
berhasil mencapai *8 & mendapatkan KEBEBASAN Waktu & Keuangan.
Kini kami berhasil menyelesaikan mendapat reward terakhir Tianshi
berupa Villa tahun 2008 ini. Ini adalah awal bukan akhir untuk
membangun kebebasan waktu". |
|
|
|
|
|
Made
Iwan Dharma Putra
Hanya Satu Kata, Buktikan!
Made
Iwan Dharma Putra adalah satu dari banyak orang yang hanya ingin
hidupnya diisi dengan kesenangan. la pun menolak meneruskan kuliah
hanya karena ingin hidup senang-senang. Tamat SMA, ia bekerja sebagai
Disc Jockey (DJ) di beberapa klub malam di Denpasar Bali.
SEJAK remaja, Iwan DP ingin hidup senang-senang. Satu profesi yang
dianggapkan bisa mewujudkan impiannya itu adalah Disc Jockey (Dj). la
menekuni profesi itu sekitar sembilan tahun. "Saya memang senang
hura-hura dan DJ itu kan kelihatannya keren. Saya juga ketemu istri
ketika sedang kerja sebagai DJ," kata Iwan.
Tahun 1996 Iwan menikahi gadis Jakarta Eliana Megawati, setahun
kemudian memiliki anak. Tetapi Iwan bersama istrinya masih tinggal di
tempat orangtuanya. Walaupun sudah punya penghasilan dari profesinya
sebagai DJ, tetapi secara ekonomi Iwan masih sangat tergantung kepada
orangtuanya. Iwan mengungkapkan penghasilannya sebagai DJ tidak
mencukupi. Beberapa tahun setelah menikah, Iwan mulai merasakan
kehidupan sebagai DJ tidak sehat bagi keluarganya. Karena harus bekerja
malam hari mulai jam 11 sampai jam 9 pagi karena harus bekerja di dua
klub malam di Kuta. Selain itu, profesi itu juga mendekatkan dirinya ke
dunia narkoba.
Ketika menjadi DJ, yang dipikirkan hanyalah senang-senang saja. "Saya
tidak memiliki impian mau jadi apa nantinya, hanya mengalir saja. Hari
ini dinikmati, besok urusan nanti. Tinggal sama orangtua, jadi kalau
kurang-kurang duit, dicukupi sama orangtua," kata Iwan. Ia mengaku,
bahwa selama bekerja sebagai DJ tidak ada harta yang bisa dikumpulkan.
"Kami tidak punya apa-apa. Mobil dipinjami sama kakak. Sampai akhirnya,
istri mengatakan: ..."mau dibawa kemana saya dan anak-anak. Kamu ini
nggak punya apa-apa, sendok aja nggak punya!"... Saya baru tersadar,
saya tidak mau main-main lagi, saya harus kerja kata Iwan. Melihat
kondisi seperti itu, istrinya ingin kembali sekolah agar mendapatkan
keterampilan dan bisa membantu ekonomi ketuarga. Artinya, mereka harus
hidup terpisah. Iwan di Bali dan Eliana kembali ke Jakarta untuk
sekolah, sementara anak mereka baru berusia tfga bulan.
Iwan
pun lalu mengurangi frekuensi kerjanya sebagai DJ. Hanya saja karena
merasa tidak memiliki keterampilan apa-apa, ia pun akhirnya nyambi
bekerja di bengkel milik kakaknya, Heru Kuncoro dan Sri. la juga
menekuni profesi jual beli mobM bekas. "Apa sajalah, yang penting bisa
dapat uang," kata Iwan. Kemudian, mertua memberi modal untuk membuka
usaha rumah makan, semacam kafe tenda. "Kami buka di halaman bengkel
Pak Heru pada malam hari. Usaha ini sempat kami tekuni selama lima
tahun. Profesi DJ betul-betul sudah saya tinggalkan. Tetapi setelah
memasuki tahun ke enam kami merasa usaha Chines food ini tidak
menghasilkan apa-apa," kata Iwan.
Usaha tersebut ternyata tidak menyelesaikan masalah ekonomi keluarga
Iwan. Ketika itulah Iwan diajak sama Pak Heru dan Bu Sri untuk
mendengarkan presentasi Pak Frengky. Iwan pun seperti menemukan
peluang. la yakin bisa sukses di Tianshi dan segera pulang, karena
ingin cepat memberitahu istrinya. Sampai di rumah, Eliana serta merta
menolak bisnis MLM yang dianggapnya tidak memiliki masa depan.
"Padahal, saya sudah yakin melalui bisnis ini bisa memiliki rumah dan
mobil sendiri karena presentasinya seperti itu. Tetapi, besoknya saya
tetap bergabung dengan Tianshi," kata Iwan. Iwan berpikir penolakan
Eliana itu hanya sementara sambil berharap besoknya akan berubah.
Tetapi, istrinya tetap tidak bergeming, bahkan Iwan dilarang berbicara
mengenai Tianshi di rumah, "Saya tetap jalan, dan berkata kepadanya,
tolong beri kesempatan dua tahun lagi untuk membuktikan bisnis ini bisa
mengubah hidup kita," kata Iwan.
Mereka pun sepakat, tetapi Eliana nggak mau diajak bicara Tianshi.
Sikap istri ini semakin menambah semangat Iwan dan secepatnya ia ingin
membuktikan. "Saya pesan kepada teman-teman yang lain, kalau keluarga
dekat, istri, bahkan orangtua tidak mendukung, hanya ada satu kata,
BUKTIKAN SAJA," kata Iwan. Mertua juga sangat tidak setuju. Mereka
mengatakan, sudah bagus dibuatkan usaha restoran, malah mengerjakan
yang lain. Menurut mereka, kalau serius, restoran tersebut pasti bisa
lebih ramai.
Tetapi Iwan mengaku, awalnya tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Sampai suatu saat ia diajak Heru dan Sri untuk menghadiri acara Seminar
Unicore. Saat itu pembicaranya adalah Pak Louis Tendean, seorang yang
sukses berperingkat Diamond. Momen itu yang mengubah paradigma dan
semakin menumbuhkan motivasi. Iwan juga sempat di ajak ke rumah Pak
Louis. "Saya melihat bukti dan merasakan naik mobil Pak Louis. Beliau
mengatakan, "Saya ingat muka kamu, maka kamu harus dapat seperti saya"
katanya di atas mobil BMW. Mulai saat itu, momentum saya pertahankan
dan tidak pernah surut lagi," kata Iwan.
Iwan mengungkapkan bahwa awal-awal mengembangkan jaringan, bonusnya
habis untuk biaya operasional ke luar kota. "Jadi nggak ada sisa untuk
keluarga. Ekonomi keluarga sementara itu di topang dari penghasilan
istri yang sudah bekerja dan masih menggunakan fasilitas rumah ibu,"
kata Iwan. Ketika Iwan bintang 7, bonusnya sudah bisa untuk mengontrak
rumah. Mulai saat itulah Iwan tidak lagi bergantung kepada orangtua.
Setelah tiga tahun, Iwan pun memboyong keluarganya pindah ke rumah
sendiri. "Kami juga sudah bisa membiayai sekolah anak-anak dari bonus
Tianshi!" kata Iwan.
Iwan membeli rumah di daerah turis, Kuta. Iwan juga sudah bisa membeli
mobil Ford Escape. Jadi, sekarang penghasilan dari Tianshi sudah bisa
untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya. "Istri memang masih
bekerja disain grafis, tetapi bekerja sesuka hati saja. Jadi, kerja
sebagai hobi saja," kata Iwan. Sikap Eliana pun mulai berubah dan
mereka sudah punya impian bersama. Eliana sudah semakin yakin, bahwa
apa yang dijanjikan Tianshi akan terjadi. "Jadi, selama menjalankan
Tianshi, yang paling berat adalah tidak ada dukungan dari istri. Kalau
Cuma ditolak oleh teman akrab pun bukan masalah besar," kata Iwan.
Impian Rumah di atas tanah 2000 M2.
Sekarang
semua keluarga mendukung saya menjalankan bisnis Tianshi. Mertua juga
kini yakin dan senang sekali melihat perubahakan kami. Sekarang ini
saya ingin memiliki rumah dengan luas tanah 20 are (2000 M2) di Kuta
dan berharap bisa diwujudkan 1,5 tahun lagi. Iwan juga ingin memiliki
Jeep Warner TJ yang akan diwujudkan dalam waktu dekat.
Impian kami, ingin membangun Yayasan untuk penitipan anak-anak dari
orang tua yang sibuk bekerja dari golongan rendah seperti pembantu,
sopir, dan Iain-Iain. }adi mereka tidak meninggalkan anaknya di kampung
sehingga bisa selalu dekat dan dapat menyusui si anak. Pentipan ini
gratis, mereka kita ajarkan pendidikan seperti sekolah. Kami rancang
dalam lima tahun bisa terwujud. Hal ini terinspirasi dari pengalaman
pribadi. Walaupun orangtua saya termasuk orang berada, tetapi saya
jarang bertemu sama bapak. Sejak remaja saya memang tidak dekat dengan
bapak, karena jarang bertemu ketika masa kecil. Istri saya juga
mengalami hal serupa.
Motivasi Words.
Tangangan
terbesar adalah dari keluarga sendiri. Kesuksesan itu 100% adalah
tanggungjawab diri sendiri, bukan karena orang lain. Kita tidak bisa
menyalahkan orangtua atau siapa pun jika belum berhasil. Saya pernah
seperti itu, tetapi begitu saya berdamai dengan diri sendiri, baru bisa
menghasilkan sesuatu.
Tempatkan hasrat pada profesi yang digeluti. Ketika ditawarkan pertama
kali, saya langsung bisa melihat ini bisa mengubah hidup.
|
|
|
|
|
Ady Gunawan
Menuai Sukses Di Ladang Yang Keras
Berada
di tengah persaingan yang ketat, menghadapi karakter orang Medan yang
unik dan keras tak membuat pasangan Ady Gunawan dan Deby mudah
menyerah. Ketika menghadapi 'badai' mereka juga terus berjuang.
Dalam
jagad bisnis MLM di Indonesia, sudah lama disadari bahwa kota
Medan-Sumatera Utara adalah 'ladang' yang potensial namun 'keras'.
Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, aktifitas ekonominya
tinggi. Letaknya juga dekat dengan Singapura dan Kuala Lumpur, sehingga
tak heran banyak perusahaan MLM 'beroperasi' di kota Medan yang
memunculkan 'persaingan' ketat. Lagi pula karakter orang Medan tidaklah
mudah untuk 'ditaklukkan'.
Hal
itu diakui oleh Ady Gunawan (Silver Lion). Ketika dia bersama istrinya
bergabung di Tianshi - Desember 2003 - belum banyak orang yang mengenal
Tianshi. "Karakter orang Medan itu keras dan unik. Di Medan kalau mau
memasukkan sesuatu yang baru, tantangannya luar biasa. Untuk meyakinkan
satu orang perlu proses yang panjang," katanya.
Orang yang pertama kali - dari kota Medan - mencapai peringkat Bronze
Lion dan meraih reward mobil Mercy Tianshi ini mengatakan bahwa banyak
orang Medan yang cenderung lebih percaya kepada bisnis money game.
"Kalau menawarkan money game, orang cenderung langsung joint. Tapi
kalau bisnis MLM murni yang butuh kerja keras, mereka akan bilang
bisnis orang malaslah, macam orang kurang kerjaanlah,"tukasnya.
"Awalnya
kami sering mengalami penolakan karena orang di kota Medan cenderung
untuk minta pembuktian lebih dahulu. Eh, ketika kami datang lagi
setelah sukses mereka masih terus minta bukti lagi. Karena itu jaringan
yang kami bangun murni dari hasil memprospek orang yang kami tidak
kenal sebelumnya," imbuhnya.
Tapi hal itu bukan halangan bagi mereka. "Bukan dimana ladangnya,
tetapi siapa petaninya. Orang Medan itu sulit ditaklukan, tapi
tergantung siapa dulu yang menjalankannya. Hikmahnya, mengembangkan
jaringan di kota lain terasa mudah karena kami sudah menaklukan Kota
Medan," sambung Deby.
Sempat Ragu
Sebenarnya, mereka berdua merasa trauma berbisnis MLM, karena di
perusahaan sebelumnya mereka tidak mencapai kesuksesan. Sudah kerja dua
tahun hasilnya tidak memadai. "Saya ditawari bergabung di Tianshi oleh
seorang teman. Istri saya langsung memutuskan joint. Kami melihat
marketing plannya luar biasa. Omset tidak pernah turun dan
terakumulasi," tutur Ady.
Menurut Ady, istrinya yang memberi dorongan dan dukungan besar untuk
total menekuni kembali bisnis MLM. Padahal saat itu bisnis Tianshi
belum memberikan titik terang. "Istri saya adalah orang yang luar
biasa. Kalau biasanya ada istri yang berespons negatif saat suaminya
ingin terjun di bisnis MLM, istri saya malah menyuruh saya berhenti
kerja dan menekuni bisnis MLM," tambahnya
"Ketika
itu saya masih bekerja sebagai marketing sepeda motor. Ekonomi keluarga
kami masih morat-marit. Istri saya bilang ia merasa kasihan dan tidak
sabar melihat saya yang bekerja dari pagi sampai malam. Menurutnya
kalau sudah 'banting tulang' penghasilannya besar tidak apa-apa, tapi
sudah kerja keras, penghasilan saya memang kecil sekali. la berpikir
saya sebaiknya berjuang total di bisnis network marketing saja,"
kisahnya.
Deby, sang istri ikut menambahkan alasannya. "Saya berpikir simple.
Kami sudah lama di bisnis network marketing, malah pernah jadi top
leader. Apapun caranya kami harus sukses. Kekuatan pikiran itu memang
betul. Waktu mau dapat Mercy, omset kami masih jauh. Tapi karena
kekuatan pikiran, eh ternyata tercapai," tambah Deby.
Jaringan Rontok
Menurut pemaparan Deby, sukses yang mereka alami sekarang bukan berarti
berlangsung mulus-mulus saja. "Saat suami saya di peringkat Bintang 7,
kami mengalami masalah berat. Ada upline kami membawa jaringan kami
pindah ke MLM lain. Kemudian ada jaringan kami yang dipindahkan ke
crossline. Waduh... itu bukan rontok lagi. Masalah ada di grup, upline,
downline, dan crossline. Kami tergencet habis, kiri-kanan,
muka-belakang, atas & bawah," kata Deby. "Padahal suami saya
mencapai Bintang 7 hanya dalam waktu 9 bulan. Peringkat kami tertahan
hampir setahun. Namun kami sangat bangga dengan perusahaan Tianshi
bertindak adil. Jaringan kami yang pindah ke crossline dikembalikan,"
papar Deby.
"Terus
terang kami sempat mengalami krisis kepercayaan diri. Syukurlah kami
memiliki upline leader yang luar biasa, Bapak Purno Wasono (Gold Lion).
Beliau tidak hanya memberi motivasi, tapi acapkali terjun langsung
membantu. Katakata pak Purno yang selalu menjadi pegangan kami adalah
lebih baik hancur bersama perusahaannya, ketimbang belum apa-apa sudah
pindah ke bisnis yang lain," imbuh Deby.
Satu hal lagi yang membuat mereka tetap bertahan di tengah terpaan
'badai', saat berada di peringkat Bintang 7 saja mereka sudah bisa
membeli mobil sendri. "Wajar saja kalau kami tetap bertahan karena kami
yakin bahwa Tianshi merupakan perusahaan yang bisa membawa perubahan
kehidupan yang lebih baik," tegas Ady.
Perlahan-lahan mereka mulai membangun bisnisnya kembali.
"Penyelesaiannya butuh waktu setahun. Grup kami memang hancur, namun
kemudian kami kembali bangkit dengan menggunakan sistem. Dan memang
berkat bantuan support system Unicore dan dukungan upline, satu per
satu masalah bisa kami atasi. Malah kami bisa memperbaiki semuanya dan
mengatur strategi yang bagus" jelas Deby.
Terbitlah Terang
Selepas
'badai' Ady Gunawan dan istrinya sudah mulai memetik hasil kerja keras
mereka. Selain memiliki mobil Mercy hasil reward, dari bonus-bonus
Tianshi mereka juga mampu membeli tiga buah mobil. Selain itu mereka
juga bisa membeli dua buah rumah. "Kami mengucapkan terima kasih kepada
seluruh downline yang telah bekerja sama membangun jaringan kami di
Medan. Kami juga berterima kasih kepada para upline Pak Purno, lbu
Yustin, Pak Angel, Pak Kanis dan Pak Efendy dan Pak Louis yang telah
banyak membantu mengatasi masalah-masalah kami di Medan, tanpa mereka
kami tidak ada apa-apanya," katanya.
"Kami
ingat betul pertama kali bertemu Pak Louis di Medan beliau langsung
menjabat tangan saya sambil berkata Pak Ady nanti mobilnya warna biru
kan? lbu Debby warnanya merah ya? Padahal ketika itu kami baru pertama
kali berkenalan dan sekarang kenyataannya terwujud. Luar biasa sekali
Pak Louis itu," tambah Ady
Secara
pribadi ia punya impian bisa membeli rumah berharga satu milyar. Ady
juga sudah mendaftarkan kedua orangtuanya untuk menunaikan ibadah haji.
"Saya pasti berusaha keras untuk mewujudkannya. Saya ingin
membahagiakan mereka," tandasnya kemudian.
Ady sangat yakin akan perkembangan bisnisnya di masa depan. Pasalnya,
sekarang saja dalam jaringannya sudah ada tiga Bronze Lion. Mereka
tengah berupaya melakukan pengembangan jaringan di Palembang. Jaringan
mereka pun sekarang sudah ada di luar negeri seperti di Penang-
Malaysia, dan Thailand. "Di Kota Medan sendiri perkembangan Tianshi
luar biasa. Omset Tianshi di kota Medan sekarang ini merupakan yang
terbesar di luar Pulau Jawa," tambahnya lagi.
Lingkungan Positif
Ady dan istrinya percaya bahwa kesuksesan itu milik setiap orang.
"Kesuksesan tidak tergantung pada orang lain. Kami didukung kualitas
produk Tianshi dan support sistemnya Tidak ada orang-orang yang
beruntung, yang beruntung adalah orang-orang yang bekerja keras dan
mengikuti sistem. Kami juga teachable, menurut dan percaya pada
upline," tambah Ady.
"Kalau
mau sukses, harus mau keluar dari lingkungan yang negatif. Lingkungan
sekitar rumah saya dulu negatif, ada pengangguran, narkoba, judi. Yah
saya sempat terikut. Tapi karena ingin sukses, saya harus keluar dari
lingkungan itu dan selalu baca buku, ikut pertemuan, dan berjumpa
dengan orang-orang yang sukses," ucap Ady.
"Yang
paling penting jangan pernah berhenti di tengah jalan. Berani memulai,
harus berani mengakhiri. Jangan tanggung-tanggung, jadi ultrakaya
sekalian. Di bisnis ini tidak ada yang gagal, yang ada karena berhenti
di tengah jalan. Apapun masalahnya, selesaikanlah, sampai tetes darah
penghabisan," ujar mereka.
Membantu Orang Lain
"Sekarang
kami tidak lagi sekadar mengejar bonus dan reward karena boleh dibilang
sekarang kami sudah mencapai kebebasan finansial. Tetapi kami ingin
membantu para downline saya untuk mencapai kesuksesan seperti yang kami
miliki. Kalau melihat ada downline yang sukses, tidak bisa diukur
nilainya dengan uang. lbarat orangtua yang melihat anaknya sukses, kami
merasa bangga," tambahnya
Ady Gunawan menyampaikan agar para downlinenya yang menjadi orang
mampu, mau menyumbangkan sebagian kekayaannya membantu fakir miskin dan
orang yang kurang mampu. "Di sekeliling kita masih banyak orang yang
perlu bantuan. Hidup di dunia ini hanya sementara dan kekayaan yang
kita peroleh tidak akan kita bawa mati. Sudah seharusnya kita tidak
hanya mengejar 'aset duniawi' tetapi juga membangun 'aset untuk
akhirat"' tuntasnya mengakhiri. |
|
|
|
|
|
 |
|
|